00

TATA KELOLA PERUSAHAAN > KEBIJAKAN MANAJEMEN RESIKO

Kebijakan Manajemen Resiko

  1. Manajemen Risiko Keuangan

Grup dipengaruhi oleh berbagai risiko keuangan, termasuk risiko kredit, risiko mata uang asing, risiko suku bunga dan risiko likuiditas. Tujuan manajemen risiko Grup secara keseluruhan adalah untuk secara efektif mengendalikan risikorisiko ini dan meminimalisasi pengaruh merugikan yang dapat terjadi terhadap kinerja keuangan mereka.

Direksi mereviu dan menyetujui kebijakan untuk mengendalikan setiap risiko ini, yang diringkas di bawah ini, dan juga memonitor risiko harga pasar dari semua instrumen keuangan.

Risiko Kredit

Aset keuangan yang menyebabkan Grup berpotensi menanggung risiko kredit, terutama terdiri dari kas dan setara kas dan piutang usaha dengan eksposur maksimum sebesar jumlah tercatat dari setiap instrumen tersebut. Tidak ada konsentrasi risiko kredit yang signifikan dalam Grup. Grup mempunyai kebijakan dan prosedur kredit untuk memastikan evaluasi kredit yang ada dan pemantauan saldo secara aktif selain itu kelayakan kredit dan prosedur penagihan ditelaah secara baik dan tepat waktu. Manajemen yakin terhadap kemampuan untuk mengendalikan dan menjaga eksposur risiko kredit pada tingkat yanga minimal.

Risiko Mata Uang Asing

Risiko mata uang asing adalah risiko dimana nilai wajar arus kas masa depan dari aset atau kewajiban Grup dalam mata uang asing dapat berfluktuasi karena perubahan nilai tukar mata uang asing.

Manajemen berkeyakinan bahwa Grup hanya memiliki risiko terhadap mata uang asing dalam tingkatan minimum karena sebagian besar pendapatan Grup adalah dengan harga, ditagih dan dibayar dalam rupiah. Demikian pula dengan beban pokok pendapatan, beban usaha dan belanja modal adalah dalam rupiah.

Risiko Tingkat Suku Bunga

Grup didanai dengan utang bank dan pinjaman lainnya yang dikenai bunga. Oleh karena itu, Grup terekspos dengan risiko perubahan tingkat suku bunga, terutama sehubungan dengan pinjaman serta aset dan liabilitas berbunga.

Kebijakan Grup adalah untuk mendapatkan tingkat suku bunga yang paling menguntungkan tanpa meningkatkan eksposur terhadap mata uang asing, yaitu dengan mengendalikan beban bunga dengan membuat kombinasi antara utang dan pinjaman jangka panjang dengan tingkat suku bunga tetap dan mengambang.

Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas timbul jika Grup mengalamikesulitan dalam mendapatkan sumberpendanaan. Manajemen risiko likuiditas berarti menjaga kecukupan saldo kas dan setara kas. Grup mengelola risiko likuiditas dengan pengawasan proyeksi dan arus kas aktual secara terus menerus serta pengawasan tanggal jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan.

Grup memonitor proyeksi persyaratan likuiditas untuk memastikan bahwa Grup memiliki saldo kecukupan kas untuk memenuhi keperluan operasi serta menjaga kecukupan dalam fasilitas pinjaman yang belum ditarik sepanjang waktu sehingga Grup memenuhi semua batas atau

persyaratan fasilitas pinjaman.

b) Manajemen Risiko Modal Tujuan Grup dalam mengelola permodalan adalah untuk melindungi kemampuan Perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usaha, sehingga entitas dapat tetap memberikan imbal hasil bagi pemegang saham dan manfaat bagi pemangku kepentingan lainnya dan untuk mengelola struktur modal yang optimal untuk meminimalisasi biaya modal yang efektif.

Dalam rangka mengelola struktur modal, Grup mungkin menyesuaikan total dividen, menerbitkan saham baru atau menambah/mengurangi total utang. Grup mengelola risiko ini dengan memonitor rasio utang terhadap ekuitas.

c) Estimasi Nilai Wajar Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.

Nilai wajar aset dan liabillitas keuangan diestimasi untuk keperluan pengakuan dan pengukuran atau untuk keperluan pengungkapan.

Nilai wajar dikategorikan dalam level yang berbeda dalam suatu hirarki nilai wajar berdasarkan pada apakah input suatu pengukuran dapat diobservasi dan signifikansi input terhadap keseluruhan pengukuran nilai wajar:
I. Harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses pada tanggal pengukuran (Level 1) II. Input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung maupun tidak langsung (Level 2) III. Input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas (Level 3)

Dalam mengukur nilai wajar aset atau liabilitas, Grup sebisa mungkin menggunakan data pasar yang dapat diobservasi. Apabila nilai wajar aset atau liabilitas tidak dapat diobservasi secara langsung, Grup menggunakan teknik penilaian yang sesuai dengan keadaannya dan memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi.

Perpindahan antara level hirarki wajar diakui oleh Grup pada akhir periode pelaporan dimana perpindahan terjadi.

I. FAKTOR RISIKO

Investasi pada saham Perseroan mengandung berbagai risiko. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam Saham Yang Ditawarkan oleh Perseroan dalam Penawaran Umum Perdana Saham ini, calon investor diperingatkan bahwa risiko ini mungkin melibatkan Perseroan, lingkungan di mana Perseroan beroperasi, saham Perseroan, dan kondisi Indonesia. Oleh karena itu, calon investor diharapkan untuk membaca, memahami, dan mempertimbangkan seluruh informasi yang disajikan dalam Prospektus ini, termasuk informasi yang berkaitan dengan risiko usaha yang dihadapi oleh Perseroan dalam menjalankan kegiatan usahanya, sebelum membuat keputusan investasi yang menyangkut saham Perseroan. Seluruh risiko yang disajikan dalam Prospektus ini mungkin memiliki dampak negatif dan material terhadap kinerja Perseroan secara keseluruhan, termasuk kinerja operasional dan keuangan, dan mungkin memiliki dampak langsung terhadap harga perdagangan saham Perseroan, sehingga dapat mengakibatkan calon investor mungkin kehilangan seluruh atau sebagian dari investasinya. Risiko-risiko yang belum diketahui Perseroan atau yang dianggap tidak material dapat juga mempengaruhi kegiatan usaha, arus kas, kinerja operasi, kinerja keuangan, atau prospek usaha Perseroan.

Penjelasan mengenai risiko usaha ini berisi pernyataan perkiraan ke depan (“forward looking statements”) yang berhubungan dengan kejadian yang mengandung unsur kejadian dan kinerja keuangan di masa yang akan datang. Secara umum, investasi dalam efek-efek dari perusahaan-perusahaan di negara berkembang seperti Indonesia memiliki risiko-risiko yang umumnya tidak terkait dengan investasi pada efek-efek di perusahaan-perusahaan di negara lain dengan ekonomi yang lebih maju. Apabila terjadi perubahan kondisi perekonomian, sosial dan politik secara global, terdapat kemungkinan harga saham Perseroan di pasar modal dapat turun dan investor dapat menghadapi potensi kerugian investasi.

Risiko-risiko yang diungkapkan dalam Prospektus berikut ini merupakan risiko-risiko yang material bagi Perseroan. Sementara seluruh risiko ini disusun berdasarkan pembobotan risiko yang memberikan dampak paling besar hingga dampak paling kecil terhadap kinerja usaha dan kinerja keuangan Perseroan, setiap risiko yang tercantum dalam Prospektus ini dapat berdampak negatif dan material terhadap kegiatan usaha, arus kas, kinerja operasional, kinerja keuangan atau prospek usaha Perseroan.

A. RISIKO UTAMA YANG DIHADAPI PERSEROAN

Risiko Utama adalah risiko terbesar yang paling signifikan dapat mempengaruhi bisnis dan usaha Perseroan, yaitu risiko persaingan usaha produk yang didistribusikan oleh Perseroan. Bisnis utama Perseroan adalah mendistribusikan beberapa merek suku cadang otomotif yang memiliki kontrak eksklusif dengan Perseroan. Beberapa merek tersebut memiliki persaingan dengan merek lain selain yang didistribusikan Perseroan dan Perseroan tidak memiliki kendali langsung atas strategi kompetisi beberapa merek tersebut, sehingga jika beberapa merek yang didistribusikan Perseroan tersebut mengalami tekanan dari merek pesaingnya di pasar, dapat mempengaruhi penjualan Perseroan secara langsung.

Perseroan dari waktu ke waktu akan terus memberikan nilai lebih kepada konsumennya dengan menjamin kualitas dan layanan yang diberikan melalui sumber daya manusia andal dan terlatih. Selain itu, Perseroan memberikan fasilitas yang dapat meningkatkan kenyamanan konsumennya, seperti jaringan toko yang luas dan tersebar di lokasi strategis, fasilitas bengkel berupa jasa pemesanan daring (online booking service) dan perawatan ekspres (express maintenance).

B. RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN BISNIS PERSEROAN DAN ENTITAS ANAK

Risiko-risiko usaha yang dihadapi oleh Perseroan dan Entitas Anak antara lain:

1. Risiko Kebijakan Prinsipal Otomotif Perseroan memiliki kontrak eksklusif sebagai distributor suku cadang kendaraan beberapa merek tertentu, sehingga kebijakan principal suku cadang otomotif tersebut dapat berpengaruh kepada bisnis Perseroan. Perseroan senantiasa melakukan penelaahan secara seksama dalam proses perolehan perpanjangan atas perjanjian distributor dan menjaga komitmen yang telah disepakati. Lebih lanjut, terkait kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Prinsipal, Perseroan berkomitmen untuk terus melakukan komunikasi yang baik dan aktif dengan Prinsipal. Dengan komunikasi tersebut, diharapkan Perseroan dapat menjaga hubungan yang erat dengan Prinsipal sehingga dapat senantiasa memperoleh perpanjangan atas perjanjian distributornya.

2. Risiko Ketidaklancaran Modal Kerja Dalam menjalankan bisnisnya, Perseroan menyediakan persediaan suku cadang kendaraan yang didapatkan dari prinsipal otomotif dan memerlukan modal kerja dalam mendapatkan persediaan tersebut. Perseroan mendapatkan modal kerja dengan sumber dari pinjaman dari bank dan kas internal Perseroan. Jika terjadi ketidaklancaran pencairan pinjaman bank tersebut, maka Perseroan akan terpapar risiko tidak bisa mendapatkan persediaan suku cadang kendaraan sesuai kebutuhan, sehingga dapat berpengaruh pada bisnis Perseroan. Perseroan senantiasa memenuhi semua persyaratan dan standar yang diterapkan oleh pihak perbankan, sehingga Perseroan tidak mendapatkan kesulitan dalam mendapatkan pinjaman modal kerja tersebut.

3. Risiko Operasional Perseroan telah mengembangkan sistem informasi untuk mendukung operasional bisnis Perseroan, mulai dari sistem internal Perseroan di hulu hingga bagian pemesanan oleh pelanggan di bagian hilir, bertujuan memudahkan proses pemesanan pelanggan. Jika proses operasional di dalam internal Perseroan atau pada sistem pemesanan oleh pelanggan mengalami gangguan, maka dapat mengganggu bisnis Perseroan. Perseroan senantiasa menjaga sistem dengan baik dengan dukungan SDM yang mumpuni dan senantiasa meningkatkan kualitas sistem untuk meminimalisir risiko kesalahan yang dapat terjadi.

4. Risiko Kebijakan Pemerintah Perseroan senantiasa berupaya untuk melakukan peninjauan secara menyeluruh terhadap peraturan dan ketentuan Pemerintah Indonesia yang berlaku. Perubahan kebijakan Pemerintah terhadap industri otomotif berpotensi mempengaruhi bisnis Perseroan. Untuk mengantisipasihal tersebut, Perseroan memiliki divisi legal yang kompeten yang selalu mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah khususnya di industri yang dijalani oleh Perseroan.

5. Risiko ekonomi Bisnis otomotif bergantung kepada pertumbuhan dan kestabilan ekonomi Indonesia, sehingga gejolak pada kondisi ekonomi berpotensi berpengaruh secara tidak langsung terhadap bisnis Perseroan. Perseroan dengan cermat dan bijaksana akan terus mengantisipasi perubahan-perubahan perekonomian dengan membuat kebijakan-kebijakan dan melakukan tindakan apabila diperlukan untuk perkembangan usahanya dan meminimalkan dampak dari kondisi eksternal yang tidak mendukung kegiatan usaha Perseroan.

C. RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN SAHAM PERSEROAN

1. Kondisi Pasar Modal Indonesia yang Dapat Mempengaruhi Harga dan Likuiditas Saham

Pasar berkembang seperti Indonesia memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan pasar maju dan jika risiko-risiko terkait hal ini terjadi, hal ini dapat mempengaruhi harga dan likuiditas saham Perseroan. Pasar berkembang secara historis memiliki karakter volatilitas yang signifikan dan kondisi sosial, politik dan ekonomi mereka dapat berbeda secara signifikan dari pasar maju. Risiko spesifik yang dapat memiliki dampak negatif dan materiil kepada harga saham, kegiatan usaha, hasil operasi, arus kas dan kondisi keuangan Perseroan termasuk antara lain:

­ kondisi politik, sosial dan ekonomi yang tidak stabil; ­ perang, aksi terorisme, dan konflik sipil; ­ intervensi pemerintah, termasuk dalam hal tarif, proteksi dan subsidi; ­ perubahan dalam peraturan, perpajakan dan struktur hukum; ­ kesulitan dan keterlambatan dalam memperoleh atau memperpanjang perizinan; ­ tindakan-tindakan yang diambil oleh Pemerintah; ­ kurangnya infrastruktur energi, transportasi dan lainnya; dan ­ penyitaan atau pengambilalihan aset.

2. Risiko Fluktuasi Harga Saham

Harga saham setelah Penawaran Umum Perdana Saham dapat berfluktuasi cukup besar dan dapat diperdagangkan pada harga yang cukup rendah di bawah Harga Penawaran, tergantung pada berbagai faktor, diantaranya:

­ Perbedaan realisasi kinerja keuangan dan operasional aktual dengan yang diharapkan oleh para pembeli, pemodal, dan analis; ­ Perubahan rekomendasi atau persepsi analis terhadap Perseroan atau Indonesia; ­ Perubahan pada kondisi ekonomi. politik atau kondisi pasar di Indonesia serta dampaknya terhadap industri Perseroan; ­ Keterlibatan Perseroan dalam perkara litigasi; ­ Perubahan harga-harga saham perusahaan-perusahaan asing (terutama di Asia) dan di negara-negara berkembang; ­ Fluktuasi harga saham yang terjadi secara global; ­ Perubahan peraturan Pemerintah; dan ­ Perubahan manajemen kunci.

Penjualan saham Perseroan dalam jumlah substansial di masa mendatang di pasar publik, atau persepsi bahwa penjualan tersebut dapat terjadi, dapat berdampak negatif terhadap harga pasar yang berlaku atas sahamnya atau terhadap kemampuannya untuk mengumpulkan modal melalui penawaran umum ekuitas tambahan atau efek yang terkait ekuitas.

Harga Penawaran dapat secara substansial lebih tinggi daripada nilai aset bersih per saham dari saham yang beredar yang diterbitkan ke para pemegang saham Perseroan yang telah ada, sehingga investor dapat mengalami penurunan nilai yang substansial.

3. Risiko Tidak Likuidnya Saham Yang Ditawarkan Pada Penawaran Umum Perdana Saham

Meskipun Perseroan akan mencatatkan sahamnya di BEI, tidak ada jaminan bahwa saham Perseroan yang diperdagangkan tersebut akan aktif atau likuid karena terdapat kemungkinan bahwa saham Perseroan akan dimiliki satu atau beberapa pihak tertentu yang tidak memperdagangkan sahamnya di pasar sekunder.

4. Penjualan Saham Perseroan Di Masa Depan Dapat Mempengaruhi Harga Saham Perseroan

Penjualan saham Perseroan di masa depan dalam jumlah besar di pasar, atau persepsi bahwa penjualan tersebut akan terjadi, dapat mempengaruhi harga pasar Saham Perseroan atau kemampuan Perseroan untuk mencari dana dari penawaran umum atau penawaran terbatas penambahan modal atau efek bersifat ekuitas.

Setelah saham Perseroan tercatat dan diperdagangkan di BEI, pemegang saham utama Perseroan dapat memperdagangkan saham yang dimilikinya di BEI. Jika perdagangan yang dilakukan oleh pemegang saham utama tersebut dilakukan dalam jumlah yang signifikan, hal ini
dapat mempengaruhi harga saham Perseroan di pasar. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain timbulnya persepsi akan adanya pemegang saham utama baru Perseroan dan jika harga perdagangan yang dilaksanakan di bawah harga pasar dapat menimbulkan tekanan jual pada saham Perseroan.

Perdagangan tersebut dapat mengakibatkan harga saham Perseroan mengalami penurunan dan hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi Perseroan untuk menghimpun modal melalui penawaran saham.

5. Risiko Pembagian Dividen

Kemampuan Perseroan untuk mengumumkan pembagian dividen sehubungan dengan saham Perseroan yang ditawarkan akan bergantung pada kinerja keuangan Perseroan di masa depanyang juga bergantung pada keberhasilan implementasi strategi pertumbuhan Perseroan; pada faktor kompetisi, peraturan, teknis, lingkungan, dan faktor-faktor lainnya; pada kondisi ekonomi secara umum; serta pada faktor-faktor tertentu yang terdapat pada industri otomotifatau proyek-proyek tertentu yang telah dilakukan oleh Perseroan, yang sebagian besar berada di luar kendali Perseroan. Apabila Perseroan membukukan kerugian atas hasil kinerja operasionalnya dalam laporan keuangan Perseroan, maka hal ini dapat menjadi alasan untuk tidak membagikan dividen.Selain itu, Perseroan juga dapat menandatangani perjanjian pinjaman di masa mendatang yang dapat membatasi kemampuan Perseroan untuk membagikan dividen, dan Perseroan dapat mencatatkan biaya atau kewajiban yang akan mengurangi atau meniadakan kas yang tersedia untuk pembagian dividen. Salah satu faktor ini dapat berdampak pada kemampuan Perseroan untuk membayar dividen kepada pemegang sahamnya. Oleh karena itu, Perseroan tidak dapat memberikan jaminan bahwa Perseroan akan dapat membagikan dividen atau Direksi Perseroan akan mengumumkan pembagian dividen.

6. Nilai Aktiva Bersih Dari Saham Yang Ditawarkan Dalam Penawaran Umum Perdana Saham Ini Lebih Rendah Dibandingkan Dengan Harga Penawaran

Harga Penawaran per saham lebih tinggi dari nilai aktiva bersih per saham untuk jumlah saham yang beredar yang diterbitkan kepada pemegang saham Perseroan saat ini. Oleh karena itu, pembeli saham yang ditawarkan akan segera mengalami dilusi yang substansial dan pemegang saham Perseroan saat ini akan mengalami peningkatan yang material dari nilai aktiva bersih per saham dari setiap saham yang mereka miliki.